Friday, January 30, 2015

‘Preman Pensiun’, Sinetron ‘Langka’ yang Layak Tonton


Kang Bahar (kiri) dan Muslihat.

Pada dasarnya, saya termasuk orang yang sangat benci melihat tayangan di televisi, terutama sinema elektronik alias sinetron.

Kebencian saya ini mungkin cukup beralasan. Selain alur ceritanya yang terkesan absurd dan mengada-ada, jalan ceritanya juga monoton, serta ending cerita yang tidak kunjung sampai. Ceritanya, kalau tidak tentang cinta-cintaan anak muda, paling-paling juga tentang hantu-hantuan, atau hewan-hewan yang bisa jadi manusia (eh terbalik, manusia yang bisa jadi hewan). Belum lagi soal kekhawatiran dampak negatif yang mungkin saja dapat ditimbulkan.

Dan the last but not least, saya tidak pernah terlibat dalam proses pembuatan sinetron sehingga tidak tahu enaknya terlibat dalam proses tersebut, entah jadi sutradaranya, penulis skenario, atau jadi bintang sinetronnya. Kalau itu terkesan berlebihan, setidaknya jadi tukang bawa mic, atau pemeran figuran yang tampil cuma muncul beberapa menit saja, yang penting bisa masuk tipi. (hahaha, alasan terakhir ini mengada-ada banget ya).

Oke kembali ke laptop. Saya sempat suka nonton sinetron ketika masih kecil, atau sekitar era 90-an hingga awal tahun 2000. Pada saat itu, sinetron-sinetron yang ditayangkan memang tak sebagus sekarang kalau dilihat dari segi koreografi dan efek-efek gambarnya. Namun soal pesan moral, sinetron-sinetron waktu saya kecil patut diacungi jempol. Sebut saja “Keluarga Cemara”, “Si Doel Anak Sekolahan”, atau “Hikayat Pengembara”. Versi saya, cerita yang disajikan dalam judul sinetron tersebut lebih natural dan tidak berlebihan. Kesederhanaan karakter para tokoh begitu kuat tergambar sepanjang cerita.

Setelah sinetron sekelas “Keluarga Cemara” dan kawan-kawan uzur, para sineas nampaknya mulai malas membuat sinetron bergenre sederhana namun sarat makna. Mereka lebih memilih memproduksi sinetron yang instan dengan cerita tidak masuk akal dan beralur acak-acakan. Ironisnya, cerita yang disajikan bisa bertahan hingga ribuan episode atau bahkan tayang hingga tahunan lamanya. Dari titik itulah saya mulai membenci yang namanya sinetron.

Dalam gambaran otak saya, sinetron sekarang ini pastilah ceritanya itu-itu saja. Semuanya saya pukul rata, termasuk ketika saya sempat melihat iklan sinetron baru yang tayang di RCTI berjudul “Preman Pensiun”. Pikiran saya, paling-paling nanti ceritanya ada anak muda yang awalnya jadi preman kemudian ketemu gadis lugu kemudian preman itu insyaf tidak mau menjadi preman lagi. Tentu saja dibumbui drama-drama yang tidak masuk akal. Dan sampai saat itu, saya masih membenci dan ogah menonton sinetron.

Namun gambaran jelek tentang sinetron di Indonesia saat ini nampaknya mulai harus saya hapus pelan-pelan. Hal itu saya simpulkan ketika tanpa sengaja memutar channel dan ketemu “Preman Pensiun”. Dalam batin saya bergumam, “Nonton sebentar ah, daripada pindah-pindah channel terus ketemunya iklan.” Setelah melihat akting Didi Petet dan Epy Kusnandar yang nampaknya menjadi pemeran utama dalam sinetron tersebut, saya kembali bergumam, “Lho sinetron ini kok beda ya? Kok tidak seperti sinetron-sinetron yang lain yang ada macan-macannya itu?” Jadilah saya lanjutkan menonton acara tersebut. Namun tidak lama kemudian, muncul credit title berjalan ke atas yang menandakan sinetron itu bersambung.

Keesokan harinya, sekitar pukul 17.00 WIB, saya coba pasang di channel RCTI, dan kembali bertemu dengan Didi Petet dkk. Alhamdulillah, tayang lagi.

Mengapa saya suka dengan “Preman Pensiun”? Dari alur cerita, sinetron “Preman Pensiun” menawarkan cerita yang tidak mainstream, yaitu mengangkat sisi unik kehidupan preman. Dengan penggambaran yang yang apa adanya namun mengena membuat film ini cukup asyik untuk ditonton.

Sesuai dengan judulnya, sinetron ini berkisah tentang pensiunnya seseorang yang awalnya berprofesi sebagai preman. Adalah Kang Bahar (Didi Petet) sang bos preman yang tiba-tiba ingin berhenti dari dunia premanisme setelah istrinya meninggal dunia. Sebelum meninggal, istri Bahar berujar kalau dirinya akan menunggu Bahar di surga. Bahar pun tertegun dengan permintaan istrinya. Dengan keadaan masih terjun di lembah hitam itu, sulit bagi Bahar mewujudkan keinginan sang istri. Karenanya, Bahar memutuskan pensiun jadi preman.

Sebagai seorang bos preman, daerah kekuasaan Kang Bahar terbilang luas. Dia menguasai sejumlah kawasan pasar, jalanan, dan terminal di bilangan Bandung. Dia juga membawahi sejumlah preman lokal, seperti Muslihat (Epy Kusnandar), Komar (Mang Drajat), Ubed (Ucup Palentin), dan sejumlah preman lain.

Kabar pensiunnya Kang Bahar jadi preman sengaja tidak disebarkan, sebab hanya akan menimbulkan perselisihan antarpreman di bawahnya. Hanya Ubed – orang kepercayaannya – saja yang diberi tahu.

Bagi saya, sinetron ini begitu dekat dengan kehidupan di masyarakat. Selain itu, kita bakal diajak melihat sisi lain dari preman yang ternyata juga sama-sama manusia seperti kita: bisa galak, bisa jenaka, atau bisa lemah lembut.

Melihat keluguan dan kelucuan para aktor dan aktris dalam memerankan karakternya, ternyata mampu memantik tawa saya. Padahal sebelumnya saya termasuk susah tertawa di depan televisi, bahkan saat menonton lawakan sekalipun.


Kelucuan menjadi bumbu utama dari sinetron yang dibesut oleh MNC Picture. Dan Komar-lah yang menjadi salah satu ikon sinetron “Preman Pensiun” berkat aktingnya. Meski bertampang sangar dengan rambut gimbal, Komar ternyata berwatak lembut dan cenderung kemayu. Komar juga paling takut dengan sang istri, apalagi ketika dia pulang ke rumah tanpa membawa uang untuk istrinya. Komar juga termasuk sangat tunduk pada bosnya, Muslihat.

Selain jalan cerita yang unik, hal lain yang membuat saya jatuh hati pada “Preman Pensiun” adalah pada latar pengambilan sinetron. Bertempat di Bandung yang memang terkenal dengan “tanah beling” dengan segala pernik kota tersebut. Berbeda dengan film lain yang menggunakan Bandung sebagai set saja, “Preman Pensiun” ini benar-benar menjadikan menjadikan para pemainnya benar-benar berbaur dengan kota tersebut. Diiringi musik khas Sunda seperti angklung dan seruling, menjadikan sinetron ini “terasa banget” Bandung-nya.

Hal unik lain, sinetron ini banyak mengambil lokasi syuting di luar ruangan, seperti di pasar, terminal, lampu merah, atau pos preman.

Para pemain yang dipilih oleh sang sutradara, juga tidak melulu artis yang sudah tenar. Sebut saja Ubed yang diperankan Ucup Palentin atau Amin yang diperankan Sandy Tile. Dengan wajah, maaf, culun mereka, ternyata mampu menyuguhkan suasana sinetron yang lebih hidup.

Meski dengan seabrek kelebihan dari sinetron ini, namun menonton sinetron ini juga perlu kewaspadaan, apalagi bila ada anak kecil. Sangat disarankan orang tua dapat mendampingi anaknya selama menyaksikan sinetron bergenre komedi ini. Sebab di dalamnya terdapat beberapa adegan tidak layak seperti pencopetan di dalam angkutan, atau pemalakan.

Terlepas dari sisi positif dan negatifnya, sinetron “Preman Pensiun” bisa menjadi alternatif tontonan 'langka' di tengah menjamurnya sinetron asal tayang belakangan ini. "Preman Pensiun" menajdi tontonan yang ringan namun memberikan makna cukup dalam. Sinetron ini cukup layak untuk ditonton bersama keluarga. :)

No comments

Post a Comment

Niki Kulo, Agus. All rights reserved. © Maira Gall.