![]() |
| Kang Bahar (kiri) dan Muslihat. |
Pada dasarnya, saya termasuk orang yang sangat benci melihat
tayangan di televisi, terutama sinema elektronik alias sinetron.
Kebencian saya ini mungkin cukup beralasan. Selain alur
ceritanya yang terkesan absurd dan mengada-ada, jalan ceritanya juga monoton,
serta ending cerita yang tidak kunjung sampai. Ceritanya, kalau tidak tentang
cinta-cintaan anak muda, paling-paling juga tentang hantu-hantuan, atau
hewan-hewan yang bisa jadi manusia (eh terbalik, manusia yang bisa jadi hewan).
Belum lagi soal kekhawatiran dampak negatif yang mungkin saja dapat
ditimbulkan.
Dan the last but not least, saya tidak pernah terlibat dalam
proses pembuatan sinetron sehingga tidak tahu enaknya terlibat dalam proses
tersebut, entah jadi sutradaranya, penulis skenario, atau jadi bintang
sinetronnya. Kalau itu terkesan berlebihan, setidaknya jadi tukang bawa mic,
atau pemeran figuran yang tampil cuma muncul beberapa menit saja, yang penting
bisa masuk tipi. (hahaha, alasan terakhir ini mengada-ada banget ya).
Oke kembali ke laptop. Saya sempat suka nonton sinetron
ketika masih kecil, atau sekitar era 90-an hingga awal tahun 2000. Pada saat
itu, sinetron-sinetron yang ditayangkan memang tak sebagus sekarang kalau
dilihat dari segi koreografi dan efek-efek gambarnya. Namun soal pesan moral,
sinetron-sinetron waktu saya kecil patut diacungi jempol. Sebut saja “Keluarga
Cemara”, “Si Doel Anak Sekolahan”, atau “Hikayat Pengembara”. Versi saya,
cerita yang disajikan dalam judul sinetron tersebut lebih natural dan tidak
berlebihan. Kesederhanaan karakter para tokoh begitu kuat tergambar sepanjang
cerita.
Setelah sinetron sekelas “Keluarga Cemara” dan kawan-kawan
uzur, para sineas nampaknya mulai malas membuat sinetron bergenre sederhana
namun sarat makna. Mereka lebih memilih memproduksi sinetron yang instan dengan
cerita tidak masuk akal dan beralur acak-acakan. Ironisnya, cerita yang
disajikan bisa bertahan hingga ribuan episode atau bahkan tayang hingga tahunan
lamanya. Dari titik itulah saya mulai membenci yang namanya sinetron.
Dalam gambaran otak saya, sinetron sekarang ini pastilah
ceritanya itu-itu saja. Semuanya saya pukul rata, termasuk ketika saya sempat
melihat iklan sinetron baru yang tayang di RCTI berjudul “Preman Pensiun”.
Pikiran saya, paling-paling nanti ceritanya ada anak muda yang awalnya jadi
preman kemudian ketemu gadis lugu kemudian preman itu insyaf tidak mau menjadi
preman lagi. Tentu saja dibumbui drama-drama yang tidak masuk akal. Dan sampai
saat itu, saya masih membenci dan ogah menonton sinetron.
Namun gambaran jelek tentang sinetron di Indonesia saat ini
nampaknya mulai harus saya hapus pelan-pelan. Hal itu saya simpulkan ketika tanpa
sengaja memutar channel dan ketemu “Preman Pensiun”. Dalam batin saya bergumam,
“Nonton sebentar ah, daripada pindah-pindah channel terus ketemunya iklan.”
Setelah melihat akting Didi Petet dan Epy Kusnandar yang nampaknya menjadi
pemeran utama dalam sinetron tersebut, saya kembali bergumam, “Lho sinetron ini
kok beda ya? Kok tidak seperti sinetron-sinetron yang lain yang ada
macan-macannya itu?” Jadilah saya lanjutkan menonton acara tersebut. Namun
tidak lama kemudian, muncul credit title berjalan ke atas yang menandakan
sinetron itu bersambung.
Keesokan harinya, sekitar pukul 17.00 WIB, saya coba pasang
di channel RCTI, dan kembali bertemu dengan Didi Petet dkk. Alhamdulillah,
tayang lagi.
Mengapa saya suka dengan “Preman Pensiun”? Dari alur cerita,
sinetron “Preman Pensiun” menawarkan cerita yang tidak mainstream, yaitu
mengangkat sisi unik kehidupan preman. Dengan penggambaran yang yang apa adanya
namun mengena membuat film ini cukup asyik untuk ditonton.
Sesuai dengan judulnya, sinetron ini berkisah tentang
pensiunnya seseorang yang awalnya berprofesi sebagai preman. Adalah Kang Bahar
(Didi Petet) sang bos preman yang tiba-tiba ingin berhenti dari dunia
premanisme setelah istrinya meninggal dunia. Sebelum meninggal, istri Bahar
berujar kalau dirinya akan menunggu Bahar di surga. Bahar pun tertegun dengan
permintaan istrinya. Dengan keadaan masih terjun di lembah hitam itu, sulit
bagi Bahar mewujudkan keinginan sang istri. Karenanya, Bahar memutuskan pensiun
jadi preman.
Sebagai seorang bos preman, daerah kekuasaan Kang Bahar
terbilang luas. Dia menguasai sejumlah kawasan pasar, jalanan, dan terminal di
bilangan Bandung. Dia juga membawahi sejumlah preman lokal, seperti Muslihat
(Epy Kusnandar), Komar (Mang Drajat), Ubed (Ucup Palentin), dan sejumlah preman
lain.
Kabar pensiunnya Kang Bahar jadi preman sengaja tidak
disebarkan, sebab hanya akan menimbulkan perselisihan antarpreman di bawahnya.
Hanya Ubed – orang kepercayaannya – saja yang diberi tahu.
Bagi saya, sinetron ini begitu dekat dengan kehidupan di
masyarakat. Selain itu, kita bakal diajak melihat sisi lain dari preman yang
ternyata juga sama-sama manusia seperti kita: bisa galak, bisa jenaka, atau
bisa lemah lembut.
Melihat keluguan dan kelucuan para aktor dan aktris dalam
memerankan karakternya, ternyata mampu memantik tawa saya. Padahal sebelumnya
saya termasuk susah tertawa di depan televisi, bahkan saat menonton lawakan
sekalipun.
Kelucuan menjadi bumbu utama dari sinetron yang dibesut oleh
MNC Picture. Dan Komar-lah yang menjadi salah satu ikon sinetron “Preman
Pensiun” berkat aktingnya. Meski bertampang sangar dengan rambut gimbal, Komar
ternyata berwatak lembut dan cenderung kemayu. Komar juga paling takut dengan
sang istri, apalagi ketika dia pulang ke rumah tanpa membawa uang untuk
istrinya. Komar juga termasuk sangat tunduk pada bosnya, Muslihat.
Selain jalan cerita yang unik, hal lain yang membuat saya
jatuh hati pada “Preman Pensiun” adalah pada latar pengambilan sinetron.
Bertempat di Bandung yang memang terkenal dengan “tanah beling” dengan segala
pernik kota tersebut. Berbeda dengan film lain yang menggunakan Bandung sebagai
set saja, “Preman Pensiun” ini benar-benar menjadikan menjadikan para pemainnya
benar-benar berbaur dengan kota tersebut. Diiringi musik khas Sunda seperti
angklung dan seruling, menjadikan sinetron ini “terasa banget” Bandung-nya.
Hal unik lain, sinetron ini banyak mengambil lokasi syuting
di luar ruangan, seperti di pasar, terminal, lampu merah, atau pos preman.
Para pemain yang dipilih oleh sang sutradara, juga tidak
melulu artis yang sudah tenar. Sebut saja Ubed yang diperankan Ucup Palentin
atau Amin yang diperankan Sandy Tile. Dengan wajah, maaf, culun mereka,
ternyata mampu menyuguhkan suasana sinetron yang lebih hidup.
Meski dengan seabrek kelebihan dari sinetron ini, namun
menonton sinetron ini juga perlu kewaspadaan, apalagi bila ada anak kecil.
Sangat disarankan orang tua dapat mendampingi anaknya selama menyaksikan
sinetron bergenre komedi ini. Sebab di dalamnya terdapat beberapa adegan tidak
layak seperti pencopetan di dalam angkutan, atau pemalakan.
Terlepas dari sisi positif dan negatifnya, sinetron “Preman
Pensiun” bisa menjadi alternatif tontonan 'langka' di tengah menjamurnya
sinetron asal tayang belakangan ini. "Preman Pensiun" menajdi
tontonan yang ringan namun memberikan makna cukup dalam. Sinetron ini cukup
layak untuk ditonton bersama keluarga. :)


No comments
Post a Comment