Kalau pas kebetulan saya mengunjungi toko buku atau bazar buku, saya
paling suka memilih-milih buku. Kalau dirasa cocok (harga dan
kebutuhan), buku tersebut hampir pasti akan saya beli. Tentu saja
harapannya bisa saya baca sampai habis.
Namun entah kenapa, dari sekian banyak buku yang pernah saya beli, paling-paling bisa sampai khatam alias sampai habis cuma buku-buku yang jumlah jumlah halamannya tidak sampai ratusan. Kalau tidak begitu, buku tersebut full gambar
seperti komik atau buku tutorial. Jaminan kalau buku seperti itu, sejam
dua jam bisa saya tuntaskan sampai lembar terakhir.
Tapi
ada penyakit yang belum bisa sembuh dari saya, yaitu ketika beli buku
yang genrenya agak berat atau yang halamannya beratus-ratus lembar,
seperti novel. Dari sekian puluh kali beli novel, tidak ada satu pun
yang saya selesaikan. Paling banter sampai
halaman puluhan, terus KO. Padahal kata teman-teman yang pernah baca
novel tersebut bahkan sampe nangis-nangis atau tertawa lebar akibat
terbawa alur ceritanya.
Ada juga buku genre berat lainnya yang pernah saya beli dan tidak gagal khatam lagi hingga saat ini, seperti buku pengetahuan Islam, atau pengembangan diri. Awalnya, niat beli buku itu sih biar
tambah wawasan (dan biar disebut kutu buku hahaha). Namun setelah
dibuka halaman pertama sampai kelima masih semangat, halaman keenam
hingga kedelapan, mata mulai berkunang, sampai halaman kesepuluh rasanya
jadi mual, dan sampai halaman ke-15, akhirnya keok juga. Dan tentu
saja, akhirnya saya kapok bacanya. Pernah sesekali memberanikan diri
membaca buku itu lagi, ujungnya sama: Menyerah di ketebalan 3 milimeter
dan kalah prematur. Hahaha.
Memang,
membaca buku yang minim atau bahkan tanpa gambar ilustrasi adalah hal
yang susah saya lakukan. Apalagi kalau bahasa yang digunakan oleh
penulis buku tersebut penuh istilah-istilah njelimet. Bawaannya ingin menyingkirkan buku tersebut dari pandangan mata (tapi eman-eman
juga kalau dibuang, soalnya sudah dibeli mahal hahaha). Dan akhirnya,
saya mulai malas beli buku gituan sebab paling ujung-ujungnya tidak
dibaca lagi.
Setelah
beberapa saat vakum dari beli buku 'gendut', saya akhirnya memutuskan
kembali ke 'habitat lama' setelah diberi tahu ada bazar buku di Jepara.
Tepat di hari terakhir bazar, saya – seperti biasa – keliling-keliling
untuk lihat-lihat judul buku yang gambar sampulnya menarik. Setelah
hampir sejam, saya memutuskan membeli sebuah buku kumpulan kartun strip"Indonesia Tertawa” karya Prie GS dan sebuah novel bestseller berjudul “99 Cahaya di Langit Eropa” karya Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra.
Lho kok beli novel lagi? Jangan-jangan nanti mogok di tengah jalan pas lagi membacanya?
Hahaha
iya, awalnya memang yakin pesimis tidak bakal bisa rampung membacanya.
Soalnya jumlah lembar halaman novel tersebut cukup fantastis bagi saya:
340 halaman! Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjut saya tukar dengan
kocek sebesar Rp 69 ribu, jumlah yang uang yang besar untuk ukuran saya.
Lagian, novel tersebut sudah difilmkan, sehingga saya nanti bisa
membandingkan ceritanya antara di buku dengan yang ada di film (kalau
sudah keluar di internet) :)
Saya
mengawali menyibak halaman-halaman yang ada dalam novel dan mencari
kalau ada gambar ilustrasi menarik. Saya temukan beberapa ilustrasi di
beberapa bab berupa peta sejumlah negara di Eropa. Dalam benak saya, wah
ini baru bagus, ada ilustrasinya walau hanya sedikit. Saya pun akhirnya
mencoba membacanya mulai dari bagian prolog. Pada bagian itu,
dikisahkan ada seorang jenderal Islam era Usmaniyah yang hendak
melakukan ekspansi ke wilayah Eropa. Kisah itu konon menjadi awal manis
berkibarnya bendera Islam di benua biru tersebut. Sampai akhir bagian
prolog, saya sudah terbawa dengan alur cerita, dan tergelitik untuk
membaca bab-bab berikutnya.
Dengan
pemilihan kata yang ringan dan tidak berbelit-belit, nampaknya Hanum
dan Rangga yang belakangan saya ketahui sebagai pasutri itu mampu
menghipnotis dan membawa saya membayangkan kisahnya selama beberapa
tahun melihat sisa-sisa kejayaan Islam di Eropa. Tanpa saya duga, saya memecahkan rekor! I break the limit! Saya
berhasil membaca novel sampai halaman ekor-ekornya untuk pertama
kalinya tanpa saya lompat-lompati!Duh, rasanya puas banget bisa
melakukannya. Apalagi saya merampungkannya hanya dalam waktu yang
relatif singkat, yaitu 2 hari 1 malam!
Seperti
yang saya katakan sebelumnya, novel karya Hanum dan Rangga ini tidak
terlalu berat untuk dipahami. Ceritanya juga mengalir dengan bagus tanpa
ada rasa bosan. Ada lagi, yaitu penempatan gambar ilustrasi yang tepat
(menurut saya) sehingga kalau saya sudah mulai malas membaca, langsung
ketemu gambar tersebut dan kembali membuat saya bersemangat untuk
melanjutkan membaca.
Secara
umum, novel “99 Cahaya di Langit Eropa” berisi tentang kisah perjalanan
napak tilas kedua penulis selama tinggal di Eropa 3 tahun lamanya.
Selama melakukan napak tilas, mereka sempat melihat landmark di
Eropa seperti Menara Eiffel, Stadion San Siro, Colloseum Roma, Tembok
Berling, atau gondola-gondola di Venesia. Apa yang mereka lihat
betul-betul melekat dalam benak dan sanubari mereka lantaran mereka
menemukan sisi lain dari keindahan-keindahan tersebut. Rupanya, apa yang
mereka lihat itu ada keterkaitan dengan sejarah Islam yang pernah
berjaya di benua tersebut. Kota-kota yang penulis sempat kunjungi
meliputi Wina (Austria), Paris (Prancis), Granada dan Cordoba (Spanyol),
serta Istanbul (Turki).
Kisah
“99 Cahaya di Langit Eropa” diawali dengan pertemuan tak sengaja antara
Hanum dan Fatma, wanita asal Turki yang kebetulan mengikuti kurus
bahasa Jerman seperti Hanum. Pertemuan itu ternyata mampu membangunkan
jiwa Hanum untuk menyusuri sisa-sisa peninggalan Islam di Eropa. Di mata
Hanum, Fatma amatlah luar biasa. Sebab Fatma yang hanya seorang ibu
rumah tangga dengan satu anak itu ternyata mempunyai wawasan yang luas
tentang sejarah Islam di Eropa. Tidak hanya itu, Fatma juga mampu
menyadarkan Hanum tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang muslim
ketika sedang menghadapi sentimen negatif dari pembencinya. Dari
pengalaman itulah, Hanum dan Fatma akhirnya sepakat untuk melakukan
perjalanan menyusuri kota-kota di Eropa yang menyimpan sejarah Islam.
Hanum
kemudian melakukan penelusuran di beberapa tempat di Eropa bersama
suaminya, setelah Fatma tiba-tiba menghilang. Dari perjalananya itu,
Hanum menuturkan betapa Islam benar-benar pernah bersinar di Eropa.
Seperti saat dia mengunjungi Museum Wina yang memajang lukisan besar
Kara Mustafa Pasha, seorang panglima perang khalifah Usmaniyah. Ada juga
Museum Louvre di Paris yang menyimpan benda peninggalan karya ilmuwan
muslim seperti lensa. Tak ketinggalan pula kunjungan di Masjid Agung
Paris yang pernah menjadi tempat penyelamat puluhan warga Yahudi dari
kejaran tentara Nazi Jerman.
Kunjungan
ke kota Instanbul juga tidak kalah bermakna. Kota yang dulunya bernama
Konstantinopel itu merupakan tempat di mana Islam pernah bersinar
cemerlang dan bahkan mencapai masa keemasan di Eropa. Hanum juga sempat
menuturkan pernah mengunjungi Hagia Sophia, sebuah geraja katedral yang
berubah fungsi menjadi museum di masa sekarang. Ternyata bangunan
tersebut dulunya adalah masjid yang pernah menjadi pusat pengembangan
ilmu dan pusat keagamaan di Istanbul.
Oh
iya, novel yang saya beli tadi kebetulan adalah edisi spesial, di mana
di beberapa lembar halaman belakang menyertakan pula foto-foto yang
pernah disinggahi penulis, serta sejumlah foto proses pembuatan film.
Jadi kian mengembara saja hayalan saya pada cerita yang disajikan Hanum
dan Rangga. Saya jadi ingin lihat edisi filmnya :)
Semenjak
'keberhasilan' saya menamatkan novel “99 Cahaya di Langit Eropa”, saya
mulai senang membaca novel lho. Novel yang sebelumnya pernah saya beli
dan tak terbaca, akhirnya saya sempatkan membaca dan menyelesaikannya
sampai akhir.
Semoga
dalam waktu dekat ada buku bergenre pengembangan diri wawasan Islam
yang bisa membuat saya ketagihan, sehingga saya tidak lagi 'alergi'
dengan buku kriting dan mampu membaca sampai tuntas. Dan tentu saja
mampu menelaah pesannya. :)


No comments
Post a Comment