Friday, January 30, 2015

Yes, Akhirnya Bisa Baca Novel Sampai Habis!

Kalau pas kebetulan saya mengunjungi toko buku atau bazar buku, saya paling suka memilih-milih buku. Kalau dirasa cocok (harga dan kebutuhan), buku tersebut hampir pasti akan saya beli. Tentu saja harapannya bisa saya baca sampai habis.
Namun entah kenapa, dari sekian banyak buku yang pernah saya beli, paling-paling bisa sampai khatam alias sampai habis cuma buku-buku yang jumlah jumlah halamannya tidak sampai ratusan. Kalau tidak begitu, buku tersebut full gambar seperti komik atau buku tutorial. Jaminan kalau buku seperti itu, sejam dua jam bisa saya tuntaskan sampai lembar terakhir.
Tapi ada penyakit yang belum bisa sembuh dari saya, yaitu ketika beli buku yang genrenya agak berat atau yang halamannya beratus-ratus lembar, seperti novel. Dari sekian puluh kali beli novel, tidak ada satu pun yang saya selesaikan. Paling banter sampai halaman puluhan, terus KO. Padahal kata teman-teman yang pernah baca novel tersebut bahkan sampe nangis-nangis atau tertawa lebar akibat terbawa alur ceritanya.
Ada juga buku genre berat lainnya yang pernah saya beli dan tidak gagal khatam lagi hingga saat ini, seperti buku pengetahuan Islam, atau pengembangan diri. Awalnya, niat beli buku itu sih biar tambah wawasan (dan biar disebut kutu buku hahaha). Namun setelah dibuka halaman pertama sampai kelima masih semangat, halaman keenam hingga kedelapan, mata mulai berkunang, sampai halaman kesepuluh rasanya jadi mual, dan sampai halaman ke-15, akhirnya keok juga. Dan tentu saja, akhirnya saya kapok bacanya. Pernah sesekali memberanikan diri membaca buku itu lagi, ujungnya sama: Menyerah di ketebalan 3 milimeter dan kalah prematur. Hahaha.
Memang, membaca buku yang minim atau bahkan tanpa gambar ilustrasi adalah hal yang susah saya lakukan. Apalagi kalau bahasa yang digunakan oleh penulis buku tersebut penuh istilah-istilah njelimet. Bawaannya ingin menyingkirkan buku tersebut dari pandangan mata (tapi eman-eman juga kalau dibuang, soalnya sudah dibeli mahal hahaha). Dan akhirnya, saya mulai malas beli buku gituan sebab paling ujung-ujungnya tidak dibaca lagi.
Setelah beberapa saat vakum dari beli buku 'gendut', saya akhirnya memutuskan kembali ke 'habitat lama' setelah diberi tahu ada bazar buku di Jepara. Tepat di hari terakhir bazar, saya – seperti biasa – keliling-keliling untuk lihat-lihat judul buku yang gambar sampulnya menarik. Setelah hampir sejam, saya memutuskan membeli sebuah buku kumpulan kartun strip"Indonesia Tertawa” karya Prie GS dan sebuah novel bestseller berjudul “99 Cahaya di Langit Eropa” karya Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra.
Lho kok beli novel lagi? Jangan-jangan nanti mogok di tengah jalan pas lagi membacanya?
Hahaha iya, awalnya memang yakin pesimis tidak bakal bisa rampung membacanya. Soalnya jumlah lembar halaman novel tersebut cukup fantastis bagi saya: 340 halaman! Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjut saya tukar dengan kocek sebesar Rp 69 ribu, jumlah yang uang yang besar untuk ukuran saya. Lagian, novel tersebut sudah difilmkan, sehingga saya nanti bisa membandingkan ceritanya antara di buku dengan yang ada di film (kalau sudah keluar di internet) :)
Saya mengawali menyibak halaman-halaman yang ada dalam novel dan mencari kalau ada gambar ilustrasi menarik. Saya temukan beberapa ilustrasi di beberapa bab berupa peta sejumlah negara di Eropa. Dalam benak saya, wah ini baru bagus, ada ilustrasinya walau hanya sedikit. Saya pun akhirnya mencoba membacanya mulai dari bagian prolog. Pada bagian itu, dikisahkan ada seorang jenderal Islam era Usmaniyah yang hendak melakukan ekspansi ke wilayah Eropa. Kisah itu konon menjadi awal manis berkibarnya bendera Islam di benua biru tersebut. Sampai akhir bagian prolog, saya sudah terbawa dengan alur cerita, dan tergelitik untuk membaca bab-bab berikutnya.
Dengan pemilihan kata yang ringan dan tidak berbelit-belit, nampaknya Hanum dan Rangga yang belakangan saya ketahui sebagai pasutri itu mampu menghipnotis dan membawa saya membayangkan kisahnya selama beberapa tahun melihat sisa-sisa kejayaan Islam di Eropa. Tanpa saya duga, saya memecahkan rekor! I break the limit! Saya berhasil membaca novel sampai halaman ekor-ekornya untuk pertama kalinya tanpa saya lompat-lompati!Duh, rasanya puas banget bisa melakukannya. Apalagi saya merampungkannya hanya dalam waktu yang relatif singkat, yaitu 2 hari 1 malam!
Seperti yang saya katakan sebelumnya, novel karya Hanum dan Rangga ini tidak terlalu berat untuk dipahami. Ceritanya juga mengalir dengan bagus tanpa ada rasa bosan. Ada lagi, yaitu penempatan gambar ilustrasi yang tepat (menurut saya) sehingga kalau saya sudah mulai malas membaca, langsung ketemu gambar tersebut dan kembali membuat saya bersemangat untuk melanjutkan membaca.
Secara umum, novel “99 Cahaya di Langit Eropa” berisi tentang kisah perjalanan napak tilas kedua penulis selama tinggal di Eropa 3 tahun lamanya. Selama melakukan napak tilas, mereka sempat melihat landmark di Eropa seperti Menara Eiffel, Stadion San Siro, Colloseum Roma, Tembok Berling, atau gondola-gondola di Venesia. Apa yang mereka lihat betul-betul melekat dalam benak dan sanubari mereka lantaran mereka menemukan sisi lain dari keindahan-keindahan tersebut. Rupanya, apa yang mereka lihat itu ada keterkaitan dengan sejarah Islam yang pernah berjaya di benua tersebut. Kota-kota yang penulis sempat kunjungi meliputi Wina (Austria), Paris (Prancis), Granada dan Cordoba (Spanyol), serta Istanbul (Turki).
Kisah “99 Cahaya di Langit Eropa” diawali dengan pertemuan tak sengaja antara Hanum dan Fatma, wanita asal Turki yang kebetulan mengikuti kurus bahasa Jerman seperti Hanum. Pertemuan itu ternyata mampu membangunkan jiwa Hanum untuk menyusuri sisa-sisa peninggalan Islam di Eropa. Di mata Hanum, Fatma amatlah luar biasa. Sebab Fatma yang hanya seorang ibu rumah tangga dengan satu anak itu ternyata mempunyai wawasan yang luas tentang sejarah Islam di Eropa. Tidak hanya itu, Fatma juga mampu menyadarkan Hanum tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang muslim ketika sedang menghadapi sentimen negatif dari pembencinya. Dari pengalaman itulah, Hanum dan Fatma akhirnya sepakat untuk melakukan perjalanan menyusuri kota-kota di Eropa yang menyimpan sejarah Islam.
Hanum kemudian melakukan penelusuran di beberapa tempat di Eropa bersama suaminya, setelah Fatma tiba-tiba menghilang. Dari perjalananya itu, Hanum menuturkan betapa Islam benar-benar pernah bersinar di Eropa. Seperti saat dia mengunjungi Museum Wina yang memajang lukisan besar Kara Mustafa Pasha, seorang panglima perang khalifah Usmaniyah. Ada juga Museum Louvre di Paris yang menyimpan benda peninggalan karya ilmuwan muslim seperti lensa. Tak ketinggalan pula kunjungan di Masjid Agung Paris yang pernah menjadi tempat penyelamat puluhan warga Yahudi dari kejaran tentara Nazi Jerman.
Kunjungan ke kota Instanbul juga tidak kalah bermakna. Kota yang dulunya bernama Konstantinopel itu merupakan tempat di mana Islam pernah bersinar cemerlang dan bahkan mencapai masa keemasan di Eropa. Hanum juga sempat menuturkan pernah mengunjungi Hagia Sophia, sebuah geraja katedral yang berubah fungsi menjadi museum di masa sekarang. Ternyata bangunan tersebut dulunya adalah masjid yang pernah menjadi pusat pengembangan ilmu dan pusat keagamaan di Istanbul.
Oh iya, novel yang saya beli tadi kebetulan adalah edisi spesial, di mana di beberapa lembar halaman belakang menyertakan pula foto-foto yang pernah disinggahi penulis, serta sejumlah foto proses pembuatan film. Jadi kian mengembara saja hayalan saya pada cerita yang disajikan Hanum dan Rangga. Saya jadi ingin lihat edisi filmnya :)
Semenjak 'keberhasilan' saya menamatkan novel “99 Cahaya di Langit Eropa”, saya mulai senang membaca novel lho. Novel yang sebelumnya pernah saya beli dan tak terbaca, akhirnya saya sempatkan membaca dan menyelesaikannya sampai akhir.
Semoga dalam waktu dekat ada buku bergenre pengembangan diri wawasan Islam yang bisa membuat saya ketagihan, sehingga saya tidak lagi 'alergi' dengan buku kriting dan mampu membaca sampai tuntas. Dan tentu saja mampu menelaah pesannya. :)

No comments

Post a Comment

Niki Kulo, Agus. All rights reserved. © Maira Gall.